Assalamualaikum waromatullahi wabarokatuh. Selamat datang di blog resmi Maha Deoh. Ini adalah wadah untuk menampung karya-karya Maha Deoh. Ada bisa memilih jenis bacaan dengan meng-klik sidebar di sisi kanan atas. Silakan jelajahi blog ini dan nikmati waktu Anda. إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia.” HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 7912), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang semakna. Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (4/467). (disalin dari ...

PERHATIAN!!!
LEBIH BAIK BACA AL-QURAN DARIPADA BACA MASIF
Langit runtuh selepas isya
menebar kutukan yang belum usai
Ketika satu kepulan api menghujam
para dewa bermain hati
Bumi mengerang, berdahak debu dan batu
Angin pun padam, rembulan tertahan malu
Bintang-bintang minggat entah kemana
dan jiwa-jiwa sekarat menanggung dosa
Apalah arti hidup, jika hanya berlarian
Apalah arti cinta, jika terus sengsara
Hati-hati menjerit, jiwa-jiwa nestapa
Dewa pun tersenyum, menunggu kelahiran baru
Neo Jakarta bergemuruh dibuatnya
Pasukan tempur menenteng senjata
Begitu pula Satria Musa
Melompat ia ke Masif-2
menebar kutukan yang belum usai
Ketika satu kepulan api menghujam
para dewa bermain hati
Bumi mengerang, berdahak debu dan batu
Angin pun padam, rembulan tertahan malu
Bintang-bintang minggat entah kemana
dan jiwa-jiwa sekarat menanggung dosa
Apalah arti hidup, jika hanya berlarian
Apalah arti cinta, jika terus sengsara
Hati-hati menjerit, jiwa-jiwa nestapa
Dewa pun tersenyum, menunggu kelahiran baru
Neo Jakarta bergemuruh dibuatnya
Pasukan tempur menenteng senjata
Begitu pula Satria Musa
Melompat ia ke Masif-2

Mesin menyala, Satria melaju ke sumber petaka
Robot raksasa itu berlari di jalanan
menyibak udara malam yang kelu
Tak pedulikan darah dan nyawa bakal diobral
"Pesta, pesta, pesta!"
"Tengoklah! Tengoklah Zidan!"
Akbar dan Naem selalu begitu
Memaksa Satria berada di persimpangan
Ternampaklah ia, makhluk setinggi gunung
Kepalanya kuda binal, tubuhnya pria rupawan
Berbalut jarik emas sampai ke lutut
Tangan kirinya bersarung api
"Allahu akbar!
Pintu hatiku sudah tutup, Vagriel!"
Satria menekan tombol, Masif-2 menerjang
tinjunya memanas, deras ke arah musuh
Vagriel telak di muka, kaki telanjangnya mundur
ia kibaskan kepalanya
Pertarungan dimulai, Vagriel beringas perkasa
tapi Masif bak betina malang
Musuh menindih, sarung apinya membakar tubuh
Satria melemah, belutut dan pasrah
Pasukan tempur mulai hadir
Meriam demi meriam menggempur Vagriel
Sementara di udara, jet-jet tempur mengincar muka
Sang dewa lepas, Masif-2 kembali berdiri
"Zidan tunjukkan kejantanannya. Kau?"
"Zidan banjir air mata. Kau?"
Akbar dan Naem berselisih lagi
Memaku wajah di layar itu
Masif agung berlari
Jiwanya meronta, tapi semangatnya tak berdebu
Satria menarik tuas, raksasa itu mengangkat kaki
Tapaknya membekas di perut Vagriel
Ronde dua, sang dewa kewalahan
Dalam satu hentakan, ia membumbung
Vagriel tak pulang, justru menukik tajam
Tubuhnya nyala api untuk Satria
Di Bumi, Masif-2 kumpulkan tenaga
Kepalannya terang biru muda
Ia pun melompat, menghadap sang dewa
dan keduanya beradulah di langit kesepian
Setelahnya alam terang benderang
dan dunia terasa ringan menuju ketiadaan
Satria melewatkan sebuah kisah
yang hanya akan didapatinya kemudian
Neo Jakarta melonjak bersorai
serpihan emas mengurai jadi angin
tapi sang ksatria muda
jadi laki yang melewatkan satu kisah
menyibak udara malam yang kelu
Tak pedulikan darah dan nyawa bakal diobral
"Pesta, pesta, pesta!"
"Tengoklah! Tengoklah Zidan!"
Akbar dan Naem selalu begitu
Memaksa Satria berada di persimpangan
Ternampaklah ia, makhluk setinggi gunung
Kepalanya kuda binal, tubuhnya pria rupawan
Berbalut jarik emas sampai ke lutut
Tangan kirinya bersarung api
"Allahu akbar!
Pintu hatiku sudah tutup, Vagriel!"
Satria menekan tombol, Masif-2 menerjang
tinjunya memanas, deras ke arah musuh
Vagriel telak di muka, kaki telanjangnya mundur
ia kibaskan kepalanya
Pertarungan dimulai, Vagriel beringas perkasa
tapi Masif bak betina malang
Musuh menindih, sarung apinya membakar tubuh
Satria melemah, belutut dan pasrah
Pasukan tempur mulai hadir
Meriam demi meriam menggempur Vagriel
Sementara di udara, jet-jet tempur mengincar muka
Sang dewa lepas, Masif-2 kembali berdiri
"Zidan tunjukkan kejantanannya. Kau?"
"Zidan banjir air mata. Kau?"
Akbar dan Naem berselisih lagi
Memaku wajah di layar itu
Masif agung berlari
Jiwanya meronta, tapi semangatnya tak berdebu
Satria menarik tuas, raksasa itu mengangkat kaki
Tapaknya membekas di perut Vagriel
Ronde dua, sang dewa kewalahan
Dalam satu hentakan, ia membumbung
Vagriel tak pulang, justru menukik tajam
Tubuhnya nyala api untuk Satria
Di Bumi, Masif-2 kumpulkan tenaga
Kepalannya terang biru muda
Ia pun melompat, menghadap sang dewa
dan keduanya beradulah di langit kesepian
Setelahnya alam terang benderang
dan dunia terasa ringan menuju ketiadaan
Satria melewatkan sebuah kisah
yang hanya akan didapatinya kemudian
Neo Jakarta melonjak bersorai
serpihan emas mengurai jadi angin
tapi sang ksatria muda
jadi laki yang melewatkan satu kisah